PPGKEMENAG.ID — Perdebatan antar-generasi mengenai gaya hidup versus kepemilikan properti terus bergulir, dengan kelompok Boomers kerap menuding bahwa pilihan gaya hidup boros menjadi penyebab Gen Z dan Milenial sulit membeli rumah. Kebiasaan membeli kopi kekinian dan roti panggang alpukat (avocado toast) seringkali dijadikan kambing hitam dalam narasi ini. Namun, muncul pertanyaan besar: apakah penghematan pada pengeluaran kecil semacam itu benar-benar menjadi kunci untuk memiliki hunian di tengah melambungnya harga properti?
Kritikan Tajam Miliarder: Jangan Makan di Luar!
Narasi yang menyalahkan gaya hidup generasi muda ini diperkuat oleh pernyataan kontroversial miliarder properti asal Australia, Tim Gurner. Dalam sebuah wawancara, Gurner secara blak-blakan menyebut bahwa ekspektasi generasi muda saat ini terlalu tinggi tanpa dibarengi pengorbanan finansial yang memadai.
Ketika saya mencoba membeli rumah pertama saya, saya tidak membeli roti panggang alpukat seharga 19 dollar AS dan empat kopi seharga masing-masing 4 dollar AS.
Gurner menceritakan pengalamannya saat berusia 19 tahun, di mana ia harus bekerja dari pukul 6 pagi hingga 10 malam selama tujuh hari seminggu demi bisa membeli rumah pertama. Menurutnya, menghabiskan puluhan dollar sehari untuk makan di kafe adalah penghambat nyata bagi mereka yang ingin memiliki aset. Senada dengan Gurner, demografer Bernard Salt juga menyoroti fenomena “kafe hipster”, menilai uang sebesar 22 dollar AS yang dihabiskan untuk sekali sarapan mewah seharusnya bisa dialokasikan sebagai tabungan uang muka (down payment).
Hitungan Matematis ala Gen Z
Meski kritik tersebut terdengar logis, para pengamat ekonomi dan generasi muda mulai menyajikan perhitungan matematis yang lebih jernih. Jess Boyer, melalui unggahan di akun Instagram The Female Quotient, membedah pengeluaran kopi harian yang sering dijadikan sasaran kritik.
Berdasarkan perhitungannya, satu gelas kopi seharga 5 dollar AS yang dibeli satu kali dalam seminggu hanya menghabiskan sekitar 252 dollar AS per tahun. Jika kebiasaan ini dilakukan secara konsisten selama 10 tahun, totalnya hanya mencapai 2.520 dollar AS (sekitar Rp 40 juta). Angka tersebut dinilai masih sangat jauh dari kebutuhan uang muka rumah di era sekarang, di mana kenaikan harga properti jauh melampaui pertumbuhan upah riil.
Jika ‘kemewahan’ itu membuat Anda tetap waras saat pekerjaan membuat Anda ingin berteriak, maka lakukanlah.
Bagi Boyer, menyalahkan kopi atas masalah kepemilikan rumah adalah sebuah penyederhanaan masalah yang tidak akurat.
Masalah Sistemik di Balik Gaya Hidup
Banyak pihak berpendapat bahwa perdebatan mengenai beli kopi versus beli rumah sebenarnya mengalihkan perhatian dari masalah ekonomi yang lebih besar, seperti kesenjangan kekayaan yang sistemik dan biaya hidup yang terus melonjak. Di tengah ketidakpastian ekonomi, politik, dan sosial, “hadiah kecil” harian seperti secangkir kopi sering kali menjadi satu-satunya cara bagi generasi muda untuk menjaga kesehatan mental.
Seorang warganet di unggahan Boyer berkomentar, “Jika Anda membeli bahan-bahan untuk membuat kopi sendiri di rumah, Anda mungkin akan menghemat sedikit uang dalam setahun, tapi Anda akan kehilangan secuil kebahagiaan terakhir Anda.”
Pada akhirnya, meskipun menabung tetap merupakan langkah penting, data menunjukkan bahwa penghematan pada makanan dan minuman saja tidak cukup untuk mengejar harga rumah yang terus meroket. Perbedaan etos kerja yang dibanggakan para miliarder di masa lalu dianggap sulit diterapkan secara langsung pada realitas ekonomi saat ini, yang diwarnai tantangan struktural yang lebih kompleks.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
