PPGKEMENAG.ID — Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer mulai melambat pada kuartal I 2026, meskipun masih menunjukkan tren kenaikan. Perlambatan ini terutama terjadi di 10 dari 18 kota yang disurvei, dengan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan pertama tahun ini tercatat 110,60 atau tumbuh 0,62 persen secara tahunan (yoy).
Angka pertumbuhan 0,62 persen (yoy) tersebut lebih rendah dibandingkan capaian kuartal IV 2025 yang sebesar 0,83 persen. Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI mengindikasikan bahwa pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer bergerak terbatas.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial di pasar primer tumbuh terbatas.
Demikian bunyi laporan BI dalam SHPR kuartal I 2026. Laporan tersebut menambahkan detail mengenai IHPR:
IHPR pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 110,60, tumbuh sebesar 0,62 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan 0,83 persen (yoy) pada triwulan IV 2025.
Perlambatan pertumbuhan harga properti residensial ini utamanya dipengaruhi oleh rumah tipe menengah dan besar. Rumah tipe menengah tumbuh 0,88 persen (yoy), melambat dari 1,12 persen pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, rumah tipe besar tumbuh 0,50 persen (yoy), menurun dari 0,72 persen. Adapun rumah tipe kecil juga mengalami perlambatan pertumbuhan, menjadi 0,61 persen (yoy) dari sebelumnya 0,76 persen.
Perlambatan di Sejumlah Kota, Surabaya Kontraksi Lebih Dalam
Secara spasial, dari 18 kota yang menjadi objek survei BI, 10 di antaranya menunjukkan perlambatan pertumbuhan harga rumah, dan tiga kota bahkan mengalami penurunan IHPR secara tahunan. Banjarmasin menjadi salah satu kota yang mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan harga sebesar 0,52 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya mencapai 1,63 persen.
Lebih lanjut, harga rumah di Surabaya tercatat mengalami kontraksi yang lebih dalam, yakni sebesar 0,27 persen (yoy) pada kuartal I 2026, dibandingkan kontraksi 0,04 persen pada kuartal IV 2025.
Di sisi lain, beberapa kota justru menunjukkan peningkatan pertumbuhan harga rumah. Padang mencatat pertumbuhan harga menjadi 1,21 persen (yoy) dari sebelumnya 0,17 persen, sementara Balikpapan meningkat menjadi 1,44 persen (yoy) dari 0,43 persen.
Secara triwulanan (qtq), IHPR pasar primer pada kuartal I 2026 tumbuh 0,04 persen, melambat dari 0,17 persen pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini terutama didorong oleh pertumbuhan rumah tipe kecil yang melambat menjadi 0,06 persen (qtq) dari 0,28 persen. Sementara itu, rumah tipe menengah mengalami kontraksi 0,01 persen (qtq), turun dari pertumbuhan 0,12 persen pada kuartal IV 2025. Rumah tipe besar juga tumbuh lebih rendah, sebesar 0,06 persen (qtq) dibandingkan 0,17 persen pada kuartal sebelumnya.
Harga Properti Dianggap Masih Kompetitif di Tengah Inflasi
Perlambatan harga rumah ini terjadi di tengah kondisi sektor properti nasional yang memasuki fase harga berbeda dibandingkan inflasi umum. Laporan Flash Report April dari Rumah123 mengindikasikan bahwa harga properti nasional mengalami kontraksi 0,4 persen, pada saat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 4,76 persen secara tahunan.
Marisa Jaya, Head of Research Rumah123, menilai bahwa periode ini merupakan waktu yang tepat bagi investor properti untuk menyeimbangkan portofolio mereka.
Kuartal kedua 2026 merupakan periode tepat untuk melakukan penyeimbangan portofolio.
ujar Marisa. Selain itu, Rumah123 juga mencatat penurunan volume suplai rumah sekunder nasional sebesar 7,8 persen (yoy), bersamaan dengan kenaikan biaya konstruksi yang mencapai 19,97 persen.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
