PPGKEMENAG.ID — Seorang balita berusia tiga tahun di Desa Bingin Rupit, Kecamatan Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, tewas tenggelam akibat banjir yang melanda wilayah tersebut. Korban diduga bermain air banjir saat orang tuanya tengah mengevakuasi barang-barang dari rumah mereka.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Muratara, Mugono, membenarkan adanya korban jiwa dalam bencana banjir ini. “Untuk korban jiwa ada satu orang meninggal dunia, yakni anak usia tiga tahun di Desa Bingin Rupit,” kata Mugono pada Jumat (7/5/2026).
Kronologi Kematian Balita
Mugono menjelaskan, pihaknya belum menerima kronologi lengkap terkait insiden tragis ini. Namun, berdasarkan informasi awal yang dihimpun, korban diduga bermain air banjir ketika orang tuanya sedang sibuk menyelamatkan barang-barang. “Informasinya, saat orang tuanya sibuk menyelamatkan barang karena banjir, anak itu bermain air lalu tenggelam,” ujarnya.
Balita tersebut sempat mendapat pertolongan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit. Namun, nyawa korban tidak dapat diselamatkan. “Sempat dibawa ke RS Rupit, tetapi dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Mugono.
Ribuan Rumah Terdampak Banjir
Banjir di Muratara tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga merendam ribuan rumah warga. Data dari BPBD Muratara menunjukkan, sebanyak 2.867 rumah di Kecamatan Karang Jaya dan Kecamatan Muara Rupit terdampak bencana ini.
Di Kecamatan Karang Jaya, banjir merendam Desa Lubuk Kumbung, Sukaraja, Muara Batang Empu, Rantau Telang, Tanjung Agung, Suka Menang, Kelurahan Karang Jaya, Muara Tiku, Terusan, dan Embacang.
Sementara itu, di Kecamatan Muara Rupit, banjir merendam Desa Tanjung Beringin, Noman, Noman Baru, Batu Gajah, Batu Gajah Baru, Maur Lama, dan Maur Baru.
Menurut Mugono, genangan air terdalam saat ini tercatat di Desa Noman dan Batu Gajah. “Update sampai sekarang, yang paling dalam ada di Desa Noman dan Batu Gajah,” jelasnya.
Lima Jembatan Gantung Putus
Selain merendam permukiman, banjir juga merusak sejumlah fasilitas infrastruktur vital. BPBD Muratara mencatat, lima jembatan gantung putus akibat diterjang derasnya arus sungai. “Total ada lima jembatan putus, di antaranya di Desa Tanjung Beringin, Terusan, Batu Gajah, dan Noman. Satu lagi saya lupa,” kata Mugono.
Putusnya jembatan-jembatan gantung ini dikhawatirkan akan menghambat mobilitas warga, terutama di wilayah-wilayah yang aksesnya sangat bergantung pada jembatan penghubung tersebut.
Sungai Rupit Meluap, Status Siaga Banjir
Mugono menjelaskan, banjir di Muratara merupakan bencana tahunan yang kerap terjadi saat intensitas hujan tinggi. Hujan deras mengguyur wilayah Muratara sejak petang hingga pagi hari. Kondisi ini menyebabkan Sungai Rupit meluap dan merendam dua kecamatan. “Kemarin sejak Maghrib hujan terus sampai pukul 08.00 WIB pagi, sehingga Sungai Rupit meluap dan merendam dua kecamatan,” ujarnya.
Saat ini, Kabupaten Muratara berstatus siaga banjir mengingat curah hujan masih tinggi. Debit air juga berpotensi terus meningkat apabila hujan kembali turun dalam intensitas tinggi. “Kami mengimbau masyarakat tetap waspada. Jika debit air terus naik, segera amankan barang-barang penting dan siapkan langkah evakuasi,” pungkas Mugono.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
