— Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menorehkan langkah penting dalam dialog antaragama melalui kesepakatan kerja sama bidang pendidikan dengan Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci Vatikan. Pertemuan bersejarah ini, yang berlangsung pada 5 Mei 2026, menempatkan UMY sebagai jembatan komunikasi strategis antara Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan otoritas tertinggi Gereja Katolik tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk menyusun Nota Kesepahaman (MoU) yang komprehensif, menandai babak baru dalam kolaborasi lintas iman.

Pendidikan sebagai Benteng Pencegah Ekstremisme

Delegasi UMY, yang dipimpin oleh Rektor Achmad Nurmandi, disambut langsung oleh Kardinal George Jacob Koovakad, Prefek Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, didampingi Pastor Markus Solo Kewuta SVD. Dalam pertemuan tersebut, Kardinal Koovakad menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Muhammadiyah dalam memajukan dunia pendidikan yang inklusif.

“Kunjungan ini memberikan harapan yang menunjukkan penerimaan terhadap keberagaman dan keterbukaan terhadap kolaborasi antaragama,” ujar Kardinal Koovakad.

Ia juga menegaskan bahwa akses pendidikan yang setara bagi perempuan, kelompok miskin, dan terpinggirkan merupakan pilar fundamental kemanusiaan. Kardinal Koovakad secara tegas menggarisbawahi peran krusial pendidikan.

“Pendidikan merupakan alat utama untuk mencerahkan kaum muda, mempromosikan martabat manusia, dan mencegah ekstremisme,” tegasnya.

Menghidupkan Kembali Deklarasi Istiqlal

Kerja sama ini bukan sekadar inisiatif baru, melainkan juga merupakan bentuk konkret dari implementasi Deklarasi Istiqlal. Deklarasi tersebut sebelumnya ditandatangani oleh mendiang Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar saat kunjungan Apostolik pada tahun 2024 silam. Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, menekankan bahwa momentum ini adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali poin-poin deklarasi melalui aksi nyata.

“Kita perlu mengingat kembali Deklarasi Istiqlal tersebut melalui kegiatan kerja sama,” ujar Dubes Trias.

Senada dengan Dubes Trias, Pastor Markus Solo Kewuta menambahkan bahwa nilai-nilai perdamaian yang terkandung dalam deklarasi tersebut akan menjadi panduan utama dalam seluruh kolaborasi ini. Ia turut menjelaskan bahwa Takhta Suci Vatikan memiliki tradisi panjang hubungan bilateral dengan berbagai negara dan komunitas agama.

“Dengan komunitas agama Islam, Takhta Suci bekerja sama dengan negara seperti Mesir, Arab Saudi, Lebanon, dan Qatar, sedangkan dengan komunitas agama Hindu, Takhta Suci bekerja sama dengan India,” terang Pastor Markus.

Sinergi Universitas Muhammadiyah dan Universitas Kepausan

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah telah lama berkomitmen untuk mempromosikan pendidikan, keadilan sosial, nilai-nilai kemanusiaan, serta hidup berdampingan secara damai di antara berbagai komunitas. Komitmen ini terwujud dalam pengelolaan 164 universitas di seluruh Indonesia yang bersifat inklusif. Salah satu contoh nyata keberagaman ini terlihat di Universitas Muhammadiyah Kupang, di mana sekitar 80 persen mahasiswanya beragama Katolik.

Di sisi lain, Takhta Suci Vatikan juga memiliki jaringan pendidikan yang kuat melalui jajaran Universitas Kepausan (Pontifical Universities) yang tersebar di berbagai belahan dunia. Beberapa di antaranya adalah Universitas Kepausan Gregoriana, Universitas Kepausan Lateran, Universitas Kepausan Urbaniana, Universitas Kepausan Salesian, Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas, Universitas Kepausan Santa Salib, dan Universitas Kepausan Santo Thomas yang berlokasi di Manila, Filipina.

Pasca penandatanganan MoU, kedua belah pihak berencana mengatur mekanisme pertemuan reguler. Kolaborasi ini tidak hanya akan menyasar studi agama, tetapi juga isu-isu global yang membutuhkan keahlian akademisi dari kedua belah pihak. Dijelaskan bahwa setiap pertemuan dapat menentukan tema pembahasan tertentu sesuai keahlian mahasiswa maupun akademisi, mencakup beragam topik seperti kecerdasan artifisial (AI), hak asasi manusia, perdagangan manusia, hingga perubahan iklim.

Untuk memastikan implementasi visi besar pendidikan lintas iman ini berjalan lancar, KBRI Takhta Suci selanjutnya akan mengoordinasikan pihak Muhammadiyah, Dikasteri Vatikan, dan Kementerian Agama RI. Langkah ini diharapkan dapat mewujudkan kolaborasi yang mendalam dan berkelanjutan.