— Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menepis anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa perguruan tinggi sekadar berfungsi sebagai pabrik penghasil tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan industri.

Asumsi tersebut mencuat di media sosial seiring dengan wacana Kemdiktisaintek untuk menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan masa depan, yang ramai diperbincangkan sejak akhir April 2026.

Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek, Mukhamad Najib, menegaskan bahwa peran kampus jauh lebih luas. “Tentu tidak demikian ya, industri hanya salah satu sektor dari peradaban, tentu kita menginginkan kampus itu bisa menjadi lokomotif peradaban,” kata Najib saat menjadi narasumber Forum Diskusi Denpasar 12 Edisi ke-274, Rabu (6/5/2026), yang disiarkan melalui kanal YouTube.

“Nah industri itu bagian dari peradaban yang harus kita isi juga untuk keluar dari kemiskinan, untuk kita masuk ke era baru, menjadi negara maju gitu. Tentu tidak semua 100 persen masyarakat harus masuk di dalam industri karena bidang kehidupan itu kan tidak hanya industri,” tambah Najib.

Dalam kesempatan tersebut, Mukhamad Najib juga menyoroti fenomena di mana masuknya investor asing ke Indonesia seringkali membuka industri baru, namun di sisi lain masyarakat lokal justru hanya menjadi penonton. Industri-industri baru tersebut, menurut Najib, kerap mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri, bukan memberdayakan masyarakat setempat.