— Bangkok, kota yang selama ini dikenal sebagai surga kuliner jalanan di Asia, tengah menghadapi ancaman terhadap salah satu daya tarik utamanya. Ribuan pedagang kaki lima di ibu kota Thailand ini kini dihadapkan pada ketidakpastian seiring dengan pengetatan aturan oleh pemerintah kota. Kebijakan ini, yang bertujuan untuk menertibkan kota, mengharuskan banyak pedagang berpindah dari pinggir jalan menuju pusat jajanan khusus atau hawker centre yang telah disediakan.

Sebagai salah satu kota dengan tempat kuliner terenak versi Tripadvisor 2026, reputasi Bangkok sebagai destinasi kuliner terancam. Para pedagang, yang telah lama menjadi denyut nadi perekonomian informal kota, kini menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan mata pencarian mereka.

Pedagang Khawatir Kehilangan Mata Pencarian

Kekhawatiran akan kehilangan mata pencarian sangat terasa di kalangan pedagang. Salah satunya adalah Looknam Sinwirakit, seorang penjual kue ketan goreng di kawasan Pecinan (Chinatown) Bangkok. Ia mengaku pernah didenda 1.000 baht atau sekitar Rp 500.000 hanya karena dianggap menghalangi jalan saat menjajakan kue seharga 50 baht.

Meski berisiko terkena denda, Looknam tetap memilih Chinatown sebagai lokasi berdagang karena ramainya wisatawan dan pembeli lokal. Ia menyuarakan keresahannya:

“Kami juga butuh mencari nafkah. Tidak adil kalau langsung menggusur pedagang.”

Situasi serupa dialami Wong Jaidee, seorang pedagang durian yang telah berjualan selama lebih dari 20 tahun di Bangkok. Ia mengaku belum memiliki rencana cadangan jika sewaktu-waktu harus berpindah lokasi. Wong khawatir tidak mampu bertahan hidup dengan biaya yang semakin tinggi di ibu kota.

“Biaya hidup di Bangkok mahal. Kami belum tentu bisa bertahan.”

Jumlah Pedagang Kaki Lima Terus Berkurang

Data dari Bangkok Metropolitan Administration (BMA) menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah pedagang keliling di Bangkok. Sejak tahun 2022, jumlah pedagang telah berkurang lebih dari 60 persen, dengan sekitar 10.000 pedagang kini tidak lagi berjualan di jalanan.

Sebagian dari mereka memilih untuk pindah ke pusat jajanan resmi yang mengadopsi konsep serupa dengan hawker centre di Singapura. Namun, tidak sedikit pula yang terpaksa menutup usahanya karena aturan yang semakin ketat atau penurunan pendapatan yang drastis.

Meskipun demikian, pemerintah Bangkok menyatakan bahwa proses relokasi dilakukan secara bertahap, dan pedagang diberi waktu untuk mencari lokasi baru. Pemerintah juga telah berupaya membuka beberapa pusat kuliner baru, salah satunya di dekat Taman Lumphini yang diresmikan pada April lalu. Di lokasi baru ini, para pedagang menyewa kios dengan biaya sekitar 60 baht per hari, atau setara dengan Rp 30.000.

Di sisi lain, kebijakan baru ini juga dirasakan menguntungkan oleh beberapa pedagang. Mereka mengaku kondisi berdagang di pusat kuliner baru terasa lebih nyaman karena tersedia akses listrik dan air yang lebih memadai. Panissara Piyasomroj, seorang penjual mi yang sebelumnya berjualan di sekitar Taman Lumphini sejak tahun 2004, merasa tempat barunya kini terasa lebih bersih dan rapi.