PPGKEMENAG.ID — Denyut jantung pebulu tangkis tunggal putra Alwi Farhan sempat mencapai 200 kali per menit saat berlaga di Piala Thomas 2026. Data ini diungkapkan oleh Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sebagai salah satu indikator ketegangan yang dialami para pemain, yang disebut-sebut menjadi faktor kegagalan tim beregu putra Indonesia.
Tim Merah Putih harus menelan pil pahit tersingkir di fase grup Piala Thomas 2026 yang berlangsung di Horsens, Denmark, pada 24 April hingga 3 Mei lalu. Pencapaian ini menjadi yang terendah sepanjang sejarah partisipasi Indonesia dalam ajang beregu putra bergengsi tersebut.
Indonesia awalnya berhasil mengantongi dua kemenangan atas Aljazair (5-0) dan Thailand (3-2) di fase grup. Namun, langkah mereka terhenti setelah kalah telak 1-4 dari Perancis dalam laga penentuan, membuat mereka gagal melaju ke babak selanjutnya.
Dalam pertandingan krusial melawan Perancis, tiga tunggal putra andalan Indonesia, yakni Jonatan Christie, Alwi Farhan, dan Anthony Sinisuka Ginting, kompak menelan kekalahan. Mereka dinilai tidak mampu mengatasi tekanan tinggi yang terjadi di lapangan.
Kabid Binpres PBSI, Eng Hian, menjelaskan bahwa ketegangan para pemain memuncak dan secara langsung memengaruhi performa mereka. Hal ini terbukti dari hasil pantauan alat rekam detak jantung yang dikenakan atlet.
Salah satu data yang disoroti Eng Hian adalah rekam jantung Alwi Farhan yang melonjak hingga 200 bpm (denyut per menit). Angka ini jauh di atas batas normal dan mengindikasikan tingkat stres serta ketegangan yang sangat tinggi.
“Kemarin atlet juga sudah menyampaikan ada faktor ketegangan yang belum bisa diatasi di lapangan. Kami sudah siapkan sisi psikolog,” kata Eng Hian dalam konferensi pers PBSI di Cipayung, Jumat (8/5/2026).
“Tapi kembali lagi, ini faktor manusia yang tidak bisa diukur pakai angka. Seorang Alwi Farhan itu kita bisa melacak heart rate dia di atas 200,” jelasnya.
Data tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa permasalahan mental bertanding, khususnya di kalangan atlet muda seperti Alwi Farhan, memerlukan pendampingan lebih intensif agar dapat segera teratasi.
Pengendalian Diri Atlet
Eng Hian mengakui bahwa masalah ketegangan ini tidak bisa sepenuhnya dikendalikan dari luar, melainkan sangat bergantung pada kemampuan masing-masing atlet dalam mengelola diri.
“Tidak bisa kita bilang ayo turunkan. Bagaimana turunnya? Yang bisa mengontrol kan diri mereka sendiri. Seorang psikolog pun misalnya kita panggil terus tarik napas!” ujar Eng Hian.
Pelatih yang akrab disapa Koh Didi itu menambahkan bahwa intervensi langsung di tengah pertandingan sangat sulit dilakukan.
“Masa begitu di tengah lapangan? Kan enggak. Ini bagaimana manusianya yang akan terus kita pantau dan tingkatkan bagaimana mengatasi yang seperti itu,” tambahnya.
Meski ketegangan adalah hal yang tak terhindarkan dalam setiap pertandingan, Eng Hian menegaskan bahwa bukan berarti masalah ini tidak bisa diatasi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi PBSI.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk bagaimana terus menggali, mencari, permasalahan-permasalahan yang menghambat prestasi dan potensi atlet,” kata Eng Hian.
Atlet Boleh Pakai Psikolog di Luar PBSI
Permasalahan mental yang kerap memengaruhi atlet pelatnas juga menjadi perhatian Wakil Ketua Umum PBSI, Taufik Hidayat. Ia memahami kompleksitas isu ini dan memberikan kelonggaran bagi atlet untuk mencari bantuan psikolog dari luar PBSI.
“Psikolog itu kan cocok-cocokan juga. Tiap anak permasalahannya beda-beda. Nah di sini juga memang ada yang psikolognya di luar, seperti apa,” tutur Taufik.
Taufik menjelaskan bahwa PBSI tidak akan memaksa atlet untuk menggunakan psikolog internal jika memang tidak cocok, sebab hal itu justru tidak akan efektif.
“Ya kita kurang apa, kita bebasin tak memaksa anak untuk pakai psikolog di dalam karena itu percuma juga. Kita kasih psikolog kalau ditanya ‘Aman?’ ‘Aman’, ditanya apa ‘Siap’. Nah keluar (kalah) juga.”
Menurut Taufik, yang terpenting adalah hasil nyata. PBSI akan memfasilitasi komunikasi antara psikolog eksternal dan psikolog internal agar penanganan bisa berjalan sinkron dan optimal.
“Jadi kita enggak ada masalah, yang penting ada hasilnya. Kita komunikasi, psikolognya siapa dengan psikolog yang ada di dalam juga supaya bisa sinkron,” tandasnya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
