PPGKEMENAG.ID — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumatera Selatan mengumumkan penemuan jenazah baru dari korban kecelakaan bus ALS di Musi Rawas Utara (Muratara), yang terjadi pada Rabu (6/5/2026). Penemuan ini menambah jumlah jenazah yang diidentifikasi menjadi 17 orang, dari sebelumnya 16 kantong jenazah yang diterima.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan Palembang, Kombes Budi Susanto, menjelaskan bahwa jenazah baru tersebut merupakan potongan tubuh yang ditemukan menempel pada jenazah lain. Potongan tubuh ini ditemukan saat proses identifikasi di rumah sakit.
“Body part ini kita temukan menempel di bawah ketiak jenazah lain yang berjenis kelamin perempuan dalam satu kantong jenazah yang dikirim,” kata Budi saat melakukan konferensi pers, Jumat (8/5/2026).
Menurut pemeriksaan awal, potongan tubuh tersebut diperkirakan berusia di bawah lima tahun. Kondisinya yang menempel pada jenazah lain disebabkan oleh efek terbakar di dalam bus.
“Total untuk saat ini ada 17 jenazah yang kami periksa dari yang sebelumnya 16 jenazah,” ujarnya.
Kendala Identifikasi Korban Balita
Sementara itu, proses identifikasi juga menghadapi tantangan, seperti yang dialami Rohma (24), warga Waykanan Lampung. Ia kehilangan tiga anggota keluarganya sekaligus dalam kecelakaan tersebut: Aldi Septiawan (26), Rani (24), dan bayi mereka, Bela, yang baru berusia dua tahun.
Rohma mengungkapkan kesulitan dalam mengidentifikasi Bela lantaran kondisi tubuh balita tersebut yang telah hangus.
“Tadi sudah diambil sampel, tapi untuk keponakan saya Bela itu sulit,” kata Rohma di Palembang, Jumat (8/5/2026).
Tim DVI menemui kendala karena darah korban Bela sudah mengering, sehingga sampel sulit diambil. Berbeda dengan Rani, ibu kandung Bela, yang sampel darahnya masih bisa diambil dari kaki kiri dan kanan untuk keperluan pencocokan identitas.
“Darah ibunya masih ada, katanya diambil dari kaki kiri dan kanan, tapi darah Bela sudah kering,” ujarnya.
Sebagai alternatif, pihak keluarga diminta untuk membawa barang pribadi milik Bela, seperti pakaian bekas yang belum dicuci. Namun, permintaan ini menimbulkan kebingungan bagi keluarga Rohma karena seluruh barang korban berada di Lampung.
“Kami disuruh bawa pakaian bekas Bela yang belum dicuci, tapi bagaimana mau mengambilnya, belum tentu juga ada. Kami sekarang bingung mau apa,” kata Rohma.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
