PPGKEMENAG.ID — Universitas Pelita Harapan (UPH) melantik 4.469 wisudawan dalam Wisuda Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung selama dua hari, Kamis (7/5/2026) hingga Jumat (8/5/2026). Acara seremonial ini diselenggarakan di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, Karawaci, Tangerang.
Wisuda kali ini menyoroti keberagaman latar belakang para lulusan, mulai dari figur publik dan keluarga tokoh nasional hingga aparatur negara. Kehadiran berbagai kalangan ini menegaskan bahwa UPH terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh pendidikan tinggi.
Salah satu wisudawan yang menarik perhatian adalah figur publik Mawar Eva de Jongh, S.I.Kom. Ia berhasil menyelesaikan studi dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Ilmu Komunikasi. Di tengah padatnya jadwal di industri hiburan, Mawar membuktikan bahwa semangat belajar dapat berjalan seiring dengan karier profesional berkat sistem pembelajaran daring.
Ketertarikannya pada Ilmu Komunikasi didasari relevansi bidang tersebut dengan kehidupan sehari-hari dan dukungannya terhadap perjalanan karier sebagai figur publik.
“Selama belajar di UPH, saya bukan hanya belajar Ilmu Komunikasi lebih dalam, tetapi juga merasa berkembang secara personal dan rohani. Saya sangat bersyukur bisa belajar di UPH,” ujar Mawar.
Ia berharap dapat terus memberikan dampak positif melalui karya dan ilmu yang diperolehnya selama berkuliah di UPH. “Untuk teman-teman yang sedang belajar atau yang juga berada di industri hiburan, jangan menyerah. Tetap semangat, tentukan tujuan kalian, dan percaya bahwa kalian pasti bisa,” tambahnya.
Selain Mawar, wisuda ini juga diikuti oleh Evy Harjono, S.H., lulusan Prodi Hukum S-1 Kelas Karyawan UPH. Evy diketahui merupakan istri dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI periode 2011-2014, Dr Amir Syamsudin, S.H., M.H. Kehadiran Evy menjadi contoh nyata bahwa semangat belajar tidak mengenal usia maupun latar belakang, sekaligus menunjukkan komitmen untuk terus mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi.
Keberagaman lulusan juga terlihat dari partisipasi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang menuntaskan pendidikan di UPH. Hal ini merupakan hasil kolaborasi antara UPH dan Polri dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Rektor UPH Dr (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan seluruh mahasiswa dalam menyelesaikan studi. Ia menegaskan bahwa pendidikan di UPH tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mempersiapkan lulusan untuk membawa dampak positif bagi masyarakat.
“Kami sungguh mengucap syukur kepada Allah atas seluruh pencapaian mahasiswa. Hari ini, kami mengutus saudara-saudara untuk menjadi pemimpin dan membawa berkat di tengah masyarakat,” ucap Jonathan.
Penghormatan bagi Pelopor Pendidikan Papua
Momen wisuda UPH semakin istimewa dengan penganugerahan gelar akademik kehormatan Doktor Honoris Causa (H.C.) di bidang manajemen kepada Wallace Wiley atau yang akrab disapa Wally. Gelar tersebut diberikan atas dedikasinya yang luar biasa dalam memajukan pendidikan di pedalaman Papua.
Pria berusia 78 tahun ini telah mengabdikan hidupnya selama hampir lima dekade untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak Papua. Ia tinggal dan melayani di Kabupaten Jayapura, Papua. Pengabdian Dr Wally bermula dari pengalamannya di Mission Aviation Fellowship (MAF), yang mendorongnya mendirikan sekolah setelah menyadari minimnya tenaga lokal asli Papua di bidang aviasi.
Pada tahun 2019, pria kelahiran Washington, Amerika Serikat, itu memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) sebagai bentuk komitmen terhadap pelayanan pendidikan di Papua. Hingga kini, lebih dari 17 sekolah dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA) telah berdiri sebagai buah pengabdiannya.
Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Dr Wally diserahkan secara langsung oleh Rektor UPH bersama Presiden UPH sekaligus Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group (PHG) Dr Stephanie Riady, B.A., M.Ed.
Dr Stephanie menyatakan bahwa perjalanan hidup Dr Wally menjadi contoh nyata bahwa manajemen bukan hanya tentang mengelola organisasi, tetapi juga melayani dan membawa dampak bagi sesama. Melalui dedikasi dan pelayanannya, lanjut Stephanie, Dr Wally berhasil menggerakkan berbagai sumber daya, mulai dari tenaga manusia, dukungan finansial, hingga jaringan internasional, untuk memperluas akses pendidikan di Papua, termasuk di daerah terpencil. Upaya tersebut juga menghadirkan harapan baru bagi banyak generasi muda Papua.
“Hidup Anda adalah contoh nyata bahwa kepemimpinan yang lahir dari panggilan dan iman mampu membawa perubahan, bahkan di situasi yang sulit. Kiranya perjalanan hidup Anda terus menginspirasi kita untuk memimpin dengan berani, melayani dengan rendah hati, dan menggunakan setiap kepercayaan yang diberikan bagi kemuliaan Tuhan,” kata Dr Stephanie.
Pada kesempatan tersebut, Dr Wally membagikan perjalanan hidupnya yang tumbuh di keluarga misionaris di Meksiko. Panggilan ayahnya sebagai misionaris membentuk arah hidup sekaligus iman keluarganya. Saat dewasa dan menempuh pendidikan di Amerika Serikat, ia sempat mengejar hal-hal yang kerap dianggap sebagai ukuran kesuksesan dunia, seperti kekayaan, ketenaran, kuasa, dan kesenangan. Namun, pengalaman tersebut membuatnya sadar bahwa damai sejahtera sejati terlihat melalui kehidupan sederhana sang ayah.
Berawal dari keterampilan konstruksi yang dimilikinya, perjalanan hidup Dr Wally berkembang hingga akhirnya melayani di bidang pendidikan dan kesehatan di Papua. Ia percaya bahwa seluruh perjalanan tersebut terjadi bukan karena rencana pribadinya, melainkan karena penyertaan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Bagi Dr Wally, perjalanan hidupnya merupakan wujud kasih karunia Tuhan. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa gelar kehormatan yang diterimanya bukanlah tentang pencapaian pribadi, melainkan karya Tuhan melalui orang-orang yang hadir dalam perjalanannya.
Dr Wally pun mengajak para wisudawan menggunakan pendidikan, talenta, dan kesempatan yang dimiliki untuk melayani sesama.
“Ketika Tuhan bertanya, ‘Apa yang kamu miliki?’ Apa pun itu baik pendidikan, kemampuan, maupun kesempatan, serahkanlah semuanya kepada-Nya dan biarkan Tuhan yang memimpin langkah kita,” ungkapnya.
Penghargaan untuk Lulusan Terbaik
Perjalanan para lulusan UPH mencerminkan keseimbangan antara pencapaian akademik dan pengembangan diri. Selain meraih prestasi akademik, mahasiswa juga dibentuk melalui berbagai pengalaman yang mengasah karakter, kepemimpinan, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan kampus, termasuk melalui Student Engagement Program (SEP) Poin.
Melalui berbagai pengalaman tersebut, UPH mempersiapkan kompetensi akademik mahasiswa sekaligus kesiapan profesional dan sosial yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Sebagai bentuk apresiasi, UPH memberikan penghargaan kepada lulusan berprestasi, baik dari sisi akademik maupun nonakademik. Penerima penghargaan pada wisuda kali ini antara lain:
- Dr Donny Setiawan, S.H., M.H. – Peraih IPK Tertinggi Program Doktor (Lulusan Doktor Hukum, Magna Cum Laude, 3.94)
- Alexander Panggabean, M.Kom. – Peraih IPK Tertinggi Program Magister (Lulusan Magister Informatika, Summa Cum Laude, 4.00)
- Gabriel Alvaro, M.Kom. – Peraih IPK Tertinggi Program Magister (Lulusan Magister Informatika, Summa Cum Laude, 4.00)
- dr. Debora Semeia Takaliuang, Sp.Rad. – Peraih IPK Tertinggi Program Pendidikan Dokter Spesialis (Lulusan Program Spesialis Radiologi, Sangat Memuaskan, 3.75)
- Lisa, S.Ak. – Peraih IPK Tertinggi Program Sarjana (Lulusan Akuntansi, Summa Cum Laude, 3.97)
- Louise Shania Sabela, S.H. – (Lulusan Program Sarjana Hukum, Peraih SEP Poin Tertinggi dengan 21.895 poin).
Pesan untuk Para Wisudawan
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Dr (H.C.) James T Riady memberikan pesan mengenai tantangan generasi muda di tengah revolusi industri dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, meski generasi masa kini semakin maju secara teknologi, banyak di antara mereka yang rentan menghadapi kebingungan spiritual.
Oleh karena itu, Dr James mendorong wisudawan merespons perkembangan AI secara bijak. Ia juga mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan hikmat dan karakter manusia.
“Saya berharap kalian membawa pulang dua hal ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan kemampuan berpikir kritis. Tanpa itu, kalian dapat dengan mudah dibentuk bukan oleh kebenaran. Jadilah pribadi yang mau berkontribusi dan memimpin, karena kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ucapnya.
Dr James juga mengingatkan bahwa setelah menerima gelar akademik, para lulusan akan memasuki dunia yang penuh ambisi dan tuntutan pencapaian. “Kehidupan tidak cukup dibangun hanya di atas intelektualitas dan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran yang diyakini,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A. menekankan bahwa riset, inovasi, dan lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi tantangan zaman. Menurutnya, hal tersebut sesuai dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia (RI) yang berfokus pada Diktisaintek Berdampak.
Dr Henri juga menilai, pendidikan di UPH tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter yang berlandaskan iman dan integritas. Menurutnya, wisuda menjadi awal bagi para lulusan untuk terus berkarya dan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
“Gunakanlah ilmu yang kalian dapatkan untuk membangun sesama. Dunia di luar sana sedang menunggu kontribusi nyata kalian. Selamat melangkah, selamat berkarya, dan teruslah menjadi terang di mana pun Anda berada,” ujar Dr Henri.
Ia menegaskan, kecerdasan buatan dan otomatisasi dapat mengubah cara manusia bekerja. Namun, kreativitas, empati, dan kepemimpinan yang berintegritas tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
