— Tekanan inflasi di Kalimantan Timur (Kaltim) melandai pada April 2026, mencatatkan angka 0,11 persen secara bulanan. Penurunan ini terjadi seiring dengan normalisasi harga pasca-perayaan Idulfitri, meskipun sektor transportasi dan energi masih menjadi penyumbang utama kenaikan harga.

Data Indeks Harga Konsumen (IHK) terbaru menunjukkan inflasi tahunan Kaltim berada pada level 2,50 persen. Angka ini masih dalam rentang kendali target nasional, namun sejumlah komoditas di dua sektor tersebut tetap menunjukkan tren kenaikan.

Penurunan signifikan terjadi dari 0,73 persen pada Maret menjadi 0,11 persen pada April, mengindikasikan bahwa lonjakan konsumsi selama Idulfitri mulai mereda. Kendati demikian, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar bulan ini.

Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan avtur secara langsung memengaruhi tarif angkutan udara serta biaya pemeliharaan kendaraan pasca-mudik. Selain itu, kenaikan harga gas LPG 3 kg juga turut mengerek indeks pada kelompok perumahan dan bahan bakar rumah tangga.

Di sisi lain, kelompok makanan dan minuman justru menunjukkan tren deflasi. Komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan ikan layang yang sempat melambung kini mulai turun, memberikan sedikit kelonggaran bagi daya beli masyarakat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menjelaskan bahwa penurunan tekanan harga ini merupakan bagian dari proses normalisasi ekonomi setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Inflasi Kaltim April 2026 tetap terjaga dengan tekanan harga yang menurun pasca-Lebaran. Meskipun ada penyesuaian pada harga energi dan layanan transportasi, stabilitas pasokan pangan yang terjaga melalui berbagai operasi pasar mampu menekan laju inflasi lebih dalam.

Menguji Strategi Pengendalian Daerah

Stabilitas angka inflasi ini tidak terlepas dari intervensi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui implementasi strategi 4K. Strategi tersebut meliputi Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.

Sepanjang April 2026, TPID telah melaksanakan lebih dari 200 kegiatan Gerakan Pangan Murah di seluruh wilayah Kaltim. Upaya ini menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan.

Namun, tantangan ke depan tetap besar. Kaltim masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah, sehingga kelancaran rantai pasok antarwilayah menjadi kunci untuk mencegah disparitas harga yang tajam. Untuk mengantisipasi hal tersebut, TPID kini mengandalkan sistem peringatan dini melalui pengembangan platform MANDAU Kaltim.

Platform ini dirancang untuk memantau stok komoditas strategis secara real-time, memungkinkan respons cepat terhadap potensi gangguan pasokan atau kenaikan harga. Kondisi inflasi April ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah.

Apabila tren normalisasi ini dapat dijaga tanpa gangguan distribusi yang signifikan, target inflasi tahunan Kaltim di angka 2,5±1 persen tetap optimistis bisa tercapai. Kuncinya kini ada pada konsistensi pengawasan stok di pasar dan percepatan tindak lanjut kebijakan saat anomali harga kembali muncul di tingkat pedagang.