PPGKEMENAG.ID — Makan sendirian di restoran, yang dulu kerap diasosiasikan dengan rasa canggung atau kesepian, kini bertransformasi menjadi tren gaya hidup modern yang terus berkembang di berbagai belahan dunia. Fenomena ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam kebiasaan bersantap masyarakat global.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah individu yang memilih untuk bersantap sendiri di restoran mengalami peningkatan pesat. Data ini, seperti dilansir dari VN Express pada Sabtu (9/5/2026), mengindikasikan adanya perubahan preferensi konsumen yang patut dicermati.
Tren Makan Sendirian yang Meningkat
Reservasi Restoran untuk Makan Sendiri Naik 19 Persen
Di Korea Selatan, misalnya, di mana budaya makan bersama sangat kuat, tren makan sendirian atau ‘honbap’ mulai menguat seiring bertambahnya jumlah rumah tangga dengan satu orang. Ini menunjukkan adaptasi sosial terhadap dinamika kehidupan perkotaan.
Meski demikian, tidak semua tempat menyambut tren ini dengan tangan terbuka. Seorang pelanggan di Seoul, ibu kota Korea Selatan, bahkan mengaku sempat ditolak saat ingin makan sendiri. Kasus serupa juga pernah menjadi perbincangan hangat ketika sebuah kedai mi mensyaratkan pelanggan solo untuk memesan dua porsi atau datang bersama teman.
Fenomena penolakan terhadap pelanggan solo tidak hanya terjadi di Asia. Beberapa restoran di Barcelona, Spanyol, dan Liverpool, Inggris, sempat menuai kritik karena dianggap kurang ramah terhadap pengunjung yang datang sendirian.
Terlepas dari pro dan kontra yang menyertainya, tren makan sendirian terus menunjukkan peningkatan di berbagai kota besar dunia. Preferensi ini mencerminkan kebutuhan akan fleksibilitas dan pengalaman personal.
Data dari OpenTable mengungkapkan bahwa reservasi restoran untuk satu orang pada tahun 2025 melonjak 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan peningkatan tertinggi jika dibandingkan dengan reservasi untuk pasangan maupun rombongan.
Menariknya, pelanggan yang datang sendiri juga cenderung mengeluarkan biaya lebih besar. Rata-rata pengeluaran mereka mencapai 90 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 1,4 juta dalam sekali makan.
Peningkatan signifikan tren ini terlihat jelas di kota-kota metropolitan besar seperti New York, London, Chicago, dan San Francisco, yang menjadi barometer gaya hidup modern.
Jadi Peluang untuk Pelaku Usaha Kuliner
Sediakan Kursi Khusus hingga Makanan Porsi Kecil
Laure Bornet, Wakil Presiden OpenTable, menegaskan bahwa makan sendirian saat ini bukan lagi sekadar pilihan sementara, melainkan telah menjadi bagian integral dari gaya hidup modern. “Tren tersebut juga menguntungkan restoran karena dapat membantu mengisi kursi kosong di area makan,” ujar Bornet.
Menyikapi fenomena ini, banyak restoran mulai menyesuaikan layanan mereka agar lebih nyaman bagi pelanggan solo. Restoran Cervo’s di New York, Amerika Serikat, misalnya, menyediakan area bar khusus untuk pelanggan yang datang sendiri, memastikan mereka tetap merasa nyaman.
Selain itu, Cervo’s juga menawarkan menu porsi kecil. Strategi ini memungkinkan pelanggan untuk mencoba lebih banyak hidangan tanpa harus memesan makanan dalam jumlah besar, sebuah adaptasi cerdas terhadap preferensi solo diner.
Di Asia, inovasi juga muncul dalam bentuk aplikasi peta seperti Naver Maps, yang kini menyediakan filter khusus untuk mencari restoran yang ramah bagi pelanggan yang datang sendiri.
Penulis kuliner asal Hong Kong, Gloria Chung Wing Han, menyoroti salah satu keuntungan utama makan sendirian. “Makan sendiri membuat seseorang lebih fokus menikmati rasa makanan tanpa terganggu percakapan,” ungkapnya.
Namun, makan sendirian tetap memiliki tantangan tersendiri, terutama untuk beberapa jenis makanan yang secara tradisional memang dirancang untuk disantap bersama. Contohnya hot pot di China, barbeku di Korea Selatan, atau paella di Spanyol.
Sejumlah restoran mewah juga masih membatasi reservasi untuk satu orang, mengingat mereka seringkali dianggap kurang menguntungkan dibanding pelanggan dalam kelompok besar.
Para ahli menyarankan agar pelanggan yang ingin makan sendiri memilih restoran dengan area bar atau datang di luar jam makan sibuk. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman dan mempermudah mereka mendapatkan tempat.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
