PPGKEMENAG.ID — Di tengah kepulan asap tebal dan kobaran api yang melahap sebuah truk di Terowongan Baotashan, China, nyawa seorang pengemudi nyaris melayang. Namun, aksi heroik seorang pemuda bernama Zhang Jian mengubah segalanya, bahkan saat ia harus berucap perpisahan kepada ibunya, meyakini dirinya mungkin tak akan kembali.
Peristiwa menegangkan itu terjadi ketika Zhang Jian (24), seorang pemuda asal provinsi Shandong, China timur, sedang dalam perjalanan pulang dari provinsi Shanxi. Saat melintasi terowongan sepanjang lebih dari 10 kilometer itu, pandangannya tertuju pada sebuah truk yang terbakar hebat.
Dua orang terlihat di samping kendaraan nahas tersebut; satu mengalami luka parah dan yang lainnya melambaikan tangan, memohon pertolongan di tengah kepanikan.
Tanpa berpikir panjang, Zhang, bersama seorang penumpang taksi online-nya, memutuskan untuk berhenti. Mereka menerobos kepulan asap pekat untuk mendekati korban.
Pria yang terluka parah itu segera diangkat dan dibawa masuk ke dalam mobil Zhang. Namun, cedera pada kaki korban membuat kakinya tidak bisa sepenuhnya masuk ke dalam mobil, memaksa Zhang mengemudi dengan pintu depan terbuka selama sepuluh menit pertama.
Asap tebal akibat kebakaran terus menyusup ke dalam mobil, membuat mereka kesulitan bernapas. Mereka harus berulang kali menyiramkan air ke tubuh untuk meredakan dampak asap yang menyesakkan. Zhang mengemudi dengan sangat lambat, penuh kehati-hatian, demi memastikan keselamatan korban di tengah terowongan yang panjangnya lebih dari 10 kilometer.
Telepon Haru Penuh Kepasrahan
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dari sumber asap, Zhang menghentikan mobilnya. Ia kemudian memindahkan korban sepenuhnya ke dalam dan menutup pintu, lalu menyalakan AC untuk membantu mengusir sisa-sisa asap.
Namun, perjuangan belum usai. Selama lima kilometer terakhir terowongan, Zhang mulai merasakan kesadarannya hilang-muncul, dan pernapasannya semakin berat.
Dalam kondisi putus asa dan khawatir, Zhang mengambil ponselnya dan menelepon sang ibu. Dengan suara yang berusaha tenang, ia menyampaikan pesan yang menusuk hati:
“Aku terjebak di terowongan Baotashan. Jika aku tidak meneleponmu dalam dua jam, aku mungkin tidak akan pernah bisa keluar dari terowongan ini.”
Meskipun diliputi kepanikan dan kekhawatiran yang mendalam, Zhang berusaha berpura-pura tenang, menghibur dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bersama dua penumpang taksinya, mereka saling menyemangati sepanjang perjalanan yang terasa sangat panjang itu. Akhirnya, mereka berhasil keluar dari terowongan dengan selamat.
“Ketika saya melihat cahaya di ujung terowongan, saya berpikir dalam hati: ‘Senang rasanya masih hidup’,” kenang Zhang, mengungkapkan kelegaan yang luar biasa.
Apresiasi dan Penghargaan atas Keberanian
Di ujung terowongan, tim ambulans dan polisi lalu lintas telah menunggu. Namun, Zhang memilih untuk tidak menerima perawatan. Ia lebih dulu mengantar penumpangnya ke tujuan di provinsi Hebei, China utara, sebelum akhirnya kembali ke Shandong.
Polisi lalu lintas Shanxi kemudian mengonfirmasi bahwa kondisi pengemudi truk yang terluka tidak dalam bahaya, berkat tindakan cepat Zhang Jian.
Keluarga korban tak lama kemudian menghubungi Zhang untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menyelamatkan nyawa anggota keluarga mereka.
Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kemuliaan tindakannya, pada 20 April 2026, pemerintah kota asal Zhang menganugerahinya gelar “Teladan Perbuatan yang Mulia dan Berani”. Ia juga menerima hadiah sebesar 10.000 yuan, atau sekitar Rp 25 juta.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
