PPGKEMENAG.ID — Warga Desa Pasirranji, Kecamatan Cikarang Pusat, kini dapat bernapas lega. Akses air bersih yang sebelumnya sulit dijangkau, kini mengalir langsung ke rumah-rumah mereka, membawa perubahan signifikan dalam kualitas hidup dan beban pengeluaran rumah tangga.
Sebelumnya, kebutuhan dasar akan air layak konsumsi menjadi tantangan besar bagi sebagian warga. Air tanah dari sumur di permukiman kerap tidak memenuhi standar, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Kepala Desa Pasirranji, Wardi Sunandar, mengungkapkan kondisi sulit tersebut. ___KFGB0PH___
Ironisnya, upaya pengeboran sumur hingga kedalaman 135 meter sampai 150 meter pun belum mampu menghasilkan air yang optimal. Akibatnya, warga terpaksa bergantung pada pasokan air dari luar wilayah, bahkan harus didatangkan dari jarak belasan kilometer.
Situasi ini menciptakan ketergantungan pada armada pengangkut dan antrean pasokan, memaksa warga untuk mengatur penggunaan air dengan sangat cermat agar tidak kehabisan sebelum pengiriman berikutnya tiba.
Biaya Air Pernah Hampir Rp 1 Juta per Bulan
Atang, seorang warga Kampung Cimahi yang telah tinggal lebih dari lima tahun di Pasirranji, masih teringat jelas masa-masa sulit saat air bersih tak pernah benar-benar tersedia di rumahnya.
“Kita pesan mobil tangki, kadang datangnya dua hari kemudian karena antre,” kata Atang.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut, Atang dan keluarganya harus merogoh kocek cukup dalam. Biaya air bisa mencapai sekitar Rp 160.000 per minggu, atau hampir Rp 1 juta per bulan. Jumlah ini belum termasuk pembelian air galon untuk kondisi darurat.
Selain biaya yang besar, ketidakpastian pasokan juga menjadi momok. Tak jarang, warga harus membawa jerigen berkeliling mencari sumber air yang masih tersedia.
Namun, kini situasi tersebut berangsur membaik. Seiring masuknya jaringan perpipaan ke permukiman warga, cara masyarakat memenuhi kebutuhan air sehari-hari pun berubah drastis.
Bagi Atang, perubahan ini berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Jika sebelumnya biaya air mendekati Rp 1 juta per bulan, kini ia hanya mengeluarkan sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu untuk dua rumah.
“Sekarang paling Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu per bulan. Dulu bisa sampai satu juta,” ujarnya.
Ketergantungan pada jerigen dan truk tangki pun mulai berkurang. Warga tidak lagi harus menempuh jarak jauh atau menunggu pasokan air untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.
Jaringan Air Bersih Mulai Menjangkau Permukiman
Perubahan positif ini mulai terasa di Kampung Cimahi, di mana sekitar 40 kepala keluarga kini telah terhubung dengan jaringan air bersih melalui program “Bosch Water Project”. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Bosch Indonesia dan Habitat for Humanity Indonesia.
Melalui infrastruktur baru ini, air disalurkan langsung ke rumah warga dengan kapasitas sekitar 21.600 liter per hari, memperluas akses layanan di wilayah yang sebelumnya belum terjangkau.
Program Director Habitat for Humanity Indonesia, Arwin Soelaksono, menegaskan bahwa akses air bersih bukan sekadar pembangunan fisik. ___KFGB3PH___
Penguatan sistem perpipaan dinilai sebagai langkah paling rasional bagi wilayah Pasirranji. Dibandingkan dengan ketergantungan pada pengambilan air tanah yang kualitasnya tidak memadai, jaringan perpipaan menawarkan kepastian pasokan dan kualitas air yang lebih stabil.
Upaya ini juga selaras dengan target pemerintah daerah untuk memperluas cakupan layanan air bersih hingga 60 persen pada tahun 2026, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di sektor air bersih dan sanitasi.
Dalam implementasinya, Bosch Indonesia turut melibatkan partisipasi karyawan melalui kegiatan volunteering, menunjukkan bentuk keterlibatan langsung di tingkat komunitas.
Inisiatif ini membuktikan bahwa akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya, melainkan juga pada distribusi yang efektif dan kolaborasi multipihak yang mampu menjangkau masyarakat di wilayah yang selama ini terpinggirkan dari layanan esensial.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
