PPGKEMENAG.ID — Fenomena hikikomori di Jepang kini menghadapi tantangan baru seiring bertambahnya usia rata-rata para pelakunya. Kondisi ini merujuk pada individu yang menarik diri dari lingkungan sosial dan mengurung diri di rumah dalam jangka waktu panjang.
Sebuah survei terbaru menunjukkan tren peningkatan usia rata-rata hikikomori, dari 33,1 tahun pada 2014 menjadi 36,9 tahun pada tahun ini. Data ini didapatkan dari survei tahunan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba Kazoku Hikikomori Japan (KHJ).
Survei tersebut dilaksanakan antara Desember 2025 hingga Januari 2026, melibatkan sekitar 280 keluarga yang memiliki anggota keluarga hikikomori. Temuan ini dilaporkan oleh Soranews24.com pada Jumat (8/5/2026).
Usia Hikikomori di Jepang Terus Menua
Beban Lansia Merawat Anak Usia Lanjut
Peningkatan usia rata-rata ini juga tercermin dalam komposisi demografis hikikomori. Sebanyak 43,1 persen di antaranya kini berusia di atas 40 tahun, bahkan 12,7 persen telah mencapai usia 50 tahun ke atas.
Sebagian besar individu hikikomori dewasa sangat bergantung pada orang tua mereka, khususnya dari uang pensiun atau pendapatan orang tua untuk menopang biaya hidup sehari-hari. Kondisi ini menciptakan beban ekonomi yang sangat berat bagi para lanjut usia (lansia).
Alih-alih menikmati masa pensiun, banyak orang tua terpaksa terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka yang telah dewasa. KHJ bahkan menemukan kasus ekstrem di mana orang tua berusia 90 tahun masih harus merawat anak mereka yang berusia 60-an tahun.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius. Jika orang tua meninggal dunia, para hikikomori ini akan kehilangan jaring pengaman (safety net) finansial, sebab mereka tidak memiliki penghasilan sendiri untuk bertahan hidup.
Muncul pertanyaan mengapa fenomena ini bisa berlangsung sangat lama. Meskipun banyak yang mengira pemicunya adalah tekanan sekolah atau perundungan (bullying), bantuan yang tersedia untuk hikikomori dewasa ternyata masih sangat minim.
“Ada persepsi umum bahwa inisiatif untuk membantu para hikikomori seharusnya berfokus pada dukungan bagi kaum muda, tapi kenyataannya masalah ini tidak hanya menimpa kelompok usia muda,” kata Chikako Hibana, salah satu direktur KHJ.
Kecenderungan orang tua di Jepang untuk lebih sabar merawat anak-anak dewasa mereka, didasari oleh rasa tanggung jawab penuh, juga turut memperpanjang situasi ini. Namun, kesabaran semacam itu tidak dapat menyelesaikan masalah secara permanen, karena dukungan orang tua pada akhirnya akan terhenti.
Oleh karena itu, bantuan yang lebih terfokus dan sesuai dengan kebutuhan sangatlah mendesak. Para hikikomori dewasa perlu dibantu agar dapat lebih mandiri dan secara bertahap terintegrasi kembali dengan masyarakat luas.
Jika tidak ada intervensi yang efektif, fenomena hikikomori berpotensi menjadi “bom waktu” bagi sistem sosial Jepang di masa depan.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
