— Memasuki dunia hobi sepeda motor sering kali diikuti dengan keinginan untuk memiliki perlengkapan berkendara kelas atas, salah satunya helm premium. Namun, banderol harga helm merek ternama seperti Arai, Shoei, hingga AGV yang bisa mencapai belasan juta rupiah kerap membuat calon pembeli bimbang.

Menariknya, bagi para pemula yang baru ingin mencicipi sensasi helm kelas atas, membeli unit bekas justru lebih disarankan dibandingkan langsung memboyong helm baru dari toko.

Aditya Wahyu Nugroho, pemilik bengkel spesialis servis helm 1DS Inside, menjelaskan bahwa membeli helm bekas merupakan langkah paling bijak bagi pengendara untuk “meraba” kecocokan antara bentuk kepala dengan karakter merek helm tertentu.

“Saya menyarankan mereka membeli helm bekas untuk meraba dulu, mana yang kira-kira cocok. Sebab, tidak semua orang merasa Arai itu enak, itu beda-beda karena bentuk kepala setiap orang tidak sama,” ujar Wahyu.

Menurut Wahyu, kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah membeli helm baru hanya karena mengikuti tren atau saran teman. Padahal, setiap produsen helm memiliki profil interior yang berbeda-beda, ada yang cocok untuk kepala cenderung lonjong atau bulat.

“Jangan sampai beli helm baru yang katanya teman enak, ternyata pas dipakai sendiri tidak nyaman. Begitu mau dijual lagi, harganya pasti jatuh jauh,” ucap Wahyu.

Dengan membeli unit bekas yang harganya lebih terjangkau, pengendara bisa mencari feel atau rasa berkendara yang paling pas tanpa harus menanggung kerugian besar jika ternyata helm tersebut tidak cocok.

“Cari yang second dulu biar dapat feel-nya. Misalnya coba Shoei, kalau sudah dapat rasanya, jual, lalu coba Arai. Kalau merasa lebih enak Arai, jual lagi, coba AGV. Misal ternyata tidak cocok pakai AGV dan mau balik ke Arai, silakan,” katanya.

Setelah melewati fase eksperimen tersebut dan sudah yakin dengan satu merek yang paling memberikan kenyamanan maksimal, barulah pengendara disarankan untuk berinvestasi pada unit baru.