PPGKEMENAG.ID — Di tengah lautan manusia dari berbagai penjuru dunia di Tanah Suci, para jemaah haji Indonesia menunjukkan kreativitasnya dalam menandai kelompok. Beragam aksesori unik digunakan untuk memastikan sesama anggota kloter tetap mudah dikenali, sekaligus menjadi ciri khas tersendiri.
Salah satu kelompok yang menerapkan cara unik ini adalah jemaah asal Lamongan, Jawa Timur, yang tergabung dalam kloter 34 Surabaya (SUB). Sejak berangkat dari Embarkasi Surabaya, para jemaah wanita di kloter ini mengenakan bros bunga mawar merah berukuran cukup besar yang disematkan pada jilbab mereka. Sementara itu, jemaah pria dari kloter yang sama memilih kain slayer sebagai penanda.
Siti Fatimah, salah seorang jemaah, menjelaskan alasan di balik pemilihan penanda tersebut.
“Supaya dari jauh pun bisa tahu bahwa ini teman (kelompok) saya,” katanya, Minggu (9/5/2026).
Menurut Siti Fatimah, jumlah jemaah haji yang sangat banyak dari berbagai negara sering kali menyulitkan mereka untuk mengidentifikasi rekan satu kloter. “Jadi kami pun akhirnya memakai bunga mawar ini,” imbuhnya.
Inovasi penanda kelompok juga datang dari jemaah asal Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelompok terbang (kloter) 10 Yogyakarta (YIA) memilih untuk mengenakan blangkon, penutup kepala khas Jawa, sebagai identitas mereka.
Syaban Nuroni, salah satu ketua rombongan, mengungkapkan bahwa penggunaan blangkon memiliki dua tujuan utama. Selain sebagai penanda kelompok, blangkon juga berfungsi untuk melestarikan dan memperkenalkan tradisi daerah asal mereka.
“Kami sekaligus memperkenalkan busana jawa, blangkon ke seluruh dunia,” ujarnya.
Jemaah asal Gunungkidul, DIY itu menambahkan, penggunaan blangkon sebagai identitas kelompok telah menjadi tradisi bagi mereka sejak tahun 2015. “Sampai sekarang masih kita pertahankan,” tegasnya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
