— Presiden terpilih Prabowo Subianto menyerukan pesan perdamaian dan stabilitas kawasan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Kamis (7/5/2026). Dalam forum tersebut, Prabowo juga menyoroti dampak konflik di Timur Tengah yang turut mempengaruhi Asia Tenggara.

Dalam pidatonya, Prabowo mengajak para pemimpin ASEAN untuk memberikan teladan dalam menjaga persatuan dan stabilitas. Ia menekankan bahwa ASEAN harus tetap menjadi jangkar stabilitas regional di tengah dinamika geopolitik global yang kian meningkat.

“Kita harus memberi contoh, kita harus benar-benar berkomitmen untuk memiliki ASEAN yang solid dan ASEAN yang menjaga perdamaian, menjaga stabilitas, yang menghargai dialog dan kolaborasi,” ucap Prabowo, saat menghadiri sesi pleno KTT ke-48 ASEAN yang digelar di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat (8/5/2026).

Menurut Prabowo, konflik dan rivalitas geopolitik hanya akan membawa dampak buruk bagi masyarakat serta menghambat pembangunan kawasan. Oleh karena itu, dialog dan kerja sama harus terus dikedepankan sebagai fondasi utama hubungan antarnegara.

“Kita tidak boleh membiarkan persaingan. Kita tidak boleh membiarkan masa lalu kita menentukan masa kini dan masa depan kita. Indonesia bertekad untuk membangun kebijakan bertetangga yang baik,” tutur Prabowo.

Prabowo juga mengingatkan pentingnya ASEAN menjaga independensi dan tidak terpengaruh oleh rivalitas geopolitik global yang berpotensi memecah belah persatuan. Ia mengajak seluruh negara anggota untuk memperkuat budaya damai dan kerja sama di tengah berbagai tantangan global.

Menurutnya, ASEAN harus mampu menjadi contoh kawasan yang stabil, harmonis, dan menjunjung tinggi perdamaian dunia.

“Di tengah makin dalamnya perpecahan, budaya perdamaian ASEAN tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga harus kita majukan agar menjadi contoh global. ASEAN harus benar-benar menjadi zona perdamaian,” kata Prabowo.

Selain itu, Prabowo menyinggung soal kedaulatan ASEAN dalam menjaga perairan dan jalur perdagangan strategis di kawasan.

“Kita harus menyadari bahwa kawasan kita memiliki jalur perdagangan strategis yang melintasi wilayah perairan kita, dan kita harus berhati-hati agar tidak terjadi gangguan di kawasan kita sendiri,” kata Prabowo dalam sesi pleno Konferensi.

Ia menilai negara-negara ASEAN perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pada jalur perdagangan dan distribusi energi global, khususnya yang melintasi Asia Tenggara.

Prabowo menambahkan, tantangan yang dihadapi kawasan saat ini tidak dapat ditangani secara individual oleh masing-masing negara, melainkan harus dihadapi secara kolektif oleh ASEAN.

“Ini bukan tantangan yang dapat ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama,” ujarnya.

Prioritaskan Keselamatan Warga Negara di Area Konflik

Dalam forum internasional tersebut, Prabowo juga mengajak para pemimpin negara ASEAN untuk memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan warga negara yang berada di Timur Tengah.

“Saya rasa banyak negara kita memiliki ribuan warga negara di Timur Tengah. Perlindungan warga negara kita harus tetap menjadi prioritas utama,” kata Prabowo.

Ia menyambut baik tawaran Singapura untuk bekerja sama dengan negara-negara ASEAN lainnya dalam mengevakuasi warga negara. Indonesia, kata Prabowo, juga siap bekerja sama dalam hal perlindungan warga negara.

“Saya rasa kita harus memiliki pendekatan ASEAN yang sama. Indonesia bersedia bekerja sama erat dengan rekan-rekan kita dari ASEAN,” kata dia.

Prabowo juga menyinggung gugurnya prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB.

“Kita telah kehilangan tentara Indonesia yang bertugas di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kita menuntut pertanggungjawaban bahwa tugas-tugas penjaga perdamaian harus dihormati oleh semua pihak,” ujar Prabowo.

Lebih lanjut, ia mengajak ASEAN untuk bersatu suara dalam melindungi warga sipil.

“Kita harus menuntut semua pihak untuk menjunjung tinggi hukum internasional dan memajukan pertanggungjawaban atas pelanggaran. Inilah saatnya bagi ASEAN untuk menunjukkan kekuatannya. Kita harus memiliki suara politik kolektif yang kuat,” kata Prabowo.

Ketahanan Pangan Menjadi Mendesak

Selain menyinggung konflik di Timur Tengah, Prabowo juga menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan. Ia menyoroti fenomena iklim dan cuaca El Nino ekstrem yang kini melanda kawasan Asia Tenggara.

“Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional tentang risiko El Nino yang sangat ekstrem yang mengintai di depan kita. Dalam hal ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak,” kata Prabowo.

Ia kembali mengingatkan pentingnya penguatan ketahanan pangan kawasan ASEAN dalam menghadapi tantangan global.

“Kita harus ingat bahwa wilayah kita memiliki jalur perdagangan strategis yang melewati perairan kita, dan kita harus berhati-hati agar tidak terjadi gangguan di wilayah kita sendiri,” ucap dia.

Menurut Prabowo, tantangan pangan tidak dapat ditangani sendiri oleh masing-masing negara, melainkan memerlukan kerja sama dan koordinasi yang lebih kuat di tingkat kawasan. Ia mendorong penguatan pertukaran informasi, diversifikasi pangan, pengembangan teknologi pertanian, serta optimalisasi cadangan pangan regional ASEAN.

“Ini bukan tantangan yang bisa ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama. Hal ini juga membutuhkan penyederhanaan ASEAN Plus Three Cadangan Beras Darurat. Kita harus memajukan Cadangan Pangan Berbasis Cadangan Lokal kita,” ucap Prabowo.

Diversifikasi dan Energi Terbarukan

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyoroti kebutuhan untuk mempercepat diversifikasi energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Negara-negara ASEAN, kata Prabowo, mesti bergerak lebih cepat dalam mencari sumber energi alternatif, memperluas energi terbarukan, serta memperkuat kesiapan menghadapi berbagai skenario global.

“Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” kata Prabowo.

Pada kesempatan itu, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) rampung dalam tiga tahun ke depan.

“Kita sedang mengembangkan alternatif, energi terbarukan, menggunakan bioenergi, juga meningkatkan penggunaan kendaraan listrik, dan kita sedang membangun program energi surya 100 gigawatt yang sangat ambisius yang ingin kita selesaikan dalam tiga tahun,” ujar Prabowo.

Melalui langkah tersebut, Indonesia menegaskan komitmen untuk memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.

Momen Keakraban

Di sela-sela pembahasan isu strategis, para pemimpin negara ASEAN juga menunjukkan kedekatan hubungan satu sama lain. Presiden RI Prabowo Subianto terekam sempat berbincang akrab dengan Perdana Menteri (PM) Thailand, Anutin Charnvirakul.

Pantauan dari YouTube Sekretariat Presiden menunjukkan Presiden Prabowo dan PM Thailand tampak asyik berbincang sebelum sesi retret KTT dimulai. Keduanya berbincang sambil berdiri, bahkan Prabowo sempat memegang tangan PM Thailand saat mereka mengobrol.

Percakapan keduanya berlangsung selama beberapa menit sebelum acara sesi retret KTT ASEAN dimulai. Ketika Prabowo hendak naik ke panggung, PM Thailand kembali menyapa Prabowo, yang dibalas dengan acungan dua jempol.

Prabowo bersama para pemimpin negara lain juga berfoto bergandengan tangan, momen khas KTT ASEAN. Sesi foto ini berlangsung tepat setelah Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., memberikan pidato dalam pembukaan acara KTT ke-48 ASEAN.

Dalam sesi foto bersama, Prabowo berdiri di antara Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, dan Raja Brunei Darussalam, Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Ia sempat berbincang singkat dengan kedua pemimpin tersebut. Selama acara pembukaan, Kepala Negara juga duduk bersebelahan dengan Raja Brunei Darussalam dan PM Kamboja.